Gue pensiunan guru SMP. Dua tahun terakhir ini hari-hari gue isinya ya gitu-gitu aja: bangun pagi, nyiram tanaman, nonton berita yang sama berulang-ulang, lalu sore nunggu cucu pulang sekolah. Bukan hidup yang buruk, sih. Tapi ada rasa kosong yang susah gue jelasin. Kayak kepala gue jadi gudang yang nggak pernah dibuka pintunya.
Terus bulan lalu, iseng, gue ngambil buku bekas matematika SMP milik cucu. Gue tantang diri sendiri: belajar satu topik kecil tiap hari, cuma 20 menit. Nggak ada target muluk, nggak ada ujian. Cuma mau lihat apa yang berubah dalam sebulan.
Dan ternyata... banyak yang berubah. Bukan perubahan dramatis ala iklan, tapi perubahan yang gue rasain pelan-pelan tiap hari.
Hari-hari pertama: ternyata otak pensiunan itu masih bisa "nyala"
Jujur aja, tiga hari pertama gue hampir nyerah. Baca satu halaman, ngantuk. Nyoba ngerjain soal, lupa caranya. Ada momen gue mikir, "Ya udah lah, umur segini ngapain sih maksa belajar."
Baca juga: Pulang Kerja Malam, Belajar 30 Menit ala Pemilik Warung Kopi
Baca Juga: comtotowapgate.shop
Tapi gue inget satu hal yang dulu sering gue bilang ke murid-murid gue: belajar itu bukan soal otak pintar, tapi soal otak yang mau dipakai. Jadi gue lanjutin. Gue ubah cara belajarnya. Nggak lagi duduk diam baca buku sampai kening berkerut. Gue mulai belajar sambil ngobrol sama diri sendiri — baca keras-keras, jelasin ulang pakai bahasa gue sendiri, kadang sambil jalan-jalan di teras.
Yang bikin gue bertahan bukan semangat besar, tapi karena 20 menit itu terasa ringan. Susah buat nolak sesuatu yang cuma 20 menit.
Masuk hari kesepuluh, ada yang aneh. Gue mulai nyari-nyari waktu buat belajar. Bukan karena disiplin, tapi karena penasaran. Kayak ada tombol kecil di kepala gue yang tiba-tiba kepencet lagi setelah bertahun-tahun mati.
Perubahan yang paling kerasa: bukan nilai, tapi suasana hari
Ini yang mungkin nggak gue duga sama sekali. Yang berubah bukan cuma pengetahuan gue soal pecahan atau aljabar. Yang berubah adalah ritme hari gue.
Dulu, pagi gue isinya nganggur sambil nunggu waktu. Sekarang, setelah sarapan, gue punya satu "urusan kecil" yang jelas: 20 menit belajar. Kedengeran sepele, tapi punya satu urusan kecil yang selesai tiap pagi itu bikin sisa hari kerasa lebih punya arah. Gue jadi lebih rapi nyusun jadwal, bahkan rajin nyatet belanjaan di buku kecil — hal yang dulu males banget gue lakuin.
Istri gue juga nyadar. Katanya gue jadi lebih banyak ngomong, lebih sering cerita hal baru. "Tumben kamu semangat banget," katanya suatu sore. Padahal yang gue ceritain cuma cara ngitung luas tanah pakai rumus sederhana.
Efek samping yang nggak gue sangka
- Tidur lebih enak. Kepala yang dipakai buat mikir ringan-ringan ternyata lebih gampang "mati" waktu malam, dibanding kepala yang seharian cuma nonton TV.
- Lebih sabar. Waktu belajar, gue sering salah dan harus ngulang. Lama-lama gue jadi terbiasa sama rasa "belum bisa", dan itu kebawa ke kehidupan sehari-hari. Nggak gampang kesel kalau ada yang nggak sesuai rencana.
- Ngerasa masih berguna. Ini yang paling dalam. Pensiun itu kayak kehilangan identitas. Belajar bikin gue ngerasa masih "hidup" di kepala sendiri.
Cara belajar yang akhirnya cocok buat gue
Gue nggak pakai metode ribet. Nggak ada aplikasi, nggak ada jadwal warna-warni. Ini yang gue lakuin selama sebulan, dan menurut gue cocok banget buat kita yang udah nggak muda lagi:
Pertama, waktunya pendek tapi rutin. 20 menit tiap hari jauh lebih berasa daripada 2 jam sekali seminggu. Otak kita, apalagi yang udah senior, lebih suka dosis kecil yang sering daripada banjir sekaligus.
Kedua, pilih topik yang bikin penasaran, bukan yang bikin tertekan. Gue sempat coba belajar bahasa Inggris lewat aplikasi, tapi malah stress karena keburu lupa. Akhirnya gue balik ke matematika dasar dan sejarah lokal — dua hal yang gue memang penasaranin. Belajar itu harus ada rasa "penasaran"-nya, kalau nggak, cuma jadi kewajiban yang nyiksa.
Ketiga, jelasin ulang pakai bahasa sendiri. Ini trik paling ampuh. Setiap selesai belajar, gue cerita ulang ke istri atau ke diri sendiri di depan cermin. Kalau gue bisa jelasin tanpa baca buku, berarti gue beneran ngerti. Kalau nggak bisa, ya berarti belum paham — tinggal ulang besok.
Keempat, jangan takut lupa. Ini yang dulu bikin gue males belajar hal baru di usia tua. Takut keliatan bodoh karena lupa. Padahal lupa itu bagian dari belajar. Yang penting bukan hafal semua, tapi mau balik lagi besok. Namanya juga latihan, bukan ujian.
Sebulan kemudian: apa yang beneran berubah?
Kalau ditanya apa hasilnya setelah sebulan, gue nggak bisa bilang gue jadi jago matematika. Nggak. Gue masih sering lupa rumus, masih suka salah hitung. Tapi ada tiga hal yang jelas berubah dan gue rasa bakal gue bawa terus.
Pertama, gue punya alasan buat bangun pagi yang bukan cuma rutinitas kosong. Kedua, gue ngerasa kepala gue lebih "hidup" — lebih gampang fokus, lebih jarang bengong tanpa arah. Ketiga, dan ini yang paling nggak gue sangka, gue jadi lebih dekat sama cucu. Sekarang kami bisa ngobrol soal pelajaran sekolahnya, dan gue nggak cuma jadi kakek yang nanya "sudah makan belum".
Kalau kamu pensiunan dan ngerasa hari-hari mulai monoton, gue cuma mau bilang satu hal: coba aja 20 menit sehari selama sebulan. Nggak perlu nunggu semangat besar, nggak perlu beli buku mahal. Ambil satu hal yang dulu bikin kamu penasaran, lalu mulai dari situ. Pelan-pelan aja. Yang penting dimulai, dan besok dilanjutin lagi.
Umur boleh nambah, tapi rasa penasaran nggak harus ikut pensiun.